Wabi 2.0: Dari Bikin Aplikasi Jadi Asisten Pribadi AI

Rabu, Sep 30, 2026 | 4 menit baca | Diperbarui pada Rabu, Sep 30, 2026

@
Wabi 2.0: Dari Bikin Aplikasi Jadi Asisten Pribadi AI

Wabi dulu dikenal sebagai tempat bikin aplikasi cuma modal ngetik prompt. Minggu ini arahnya berubah. Startup yang didirikan Eugenia Kuyda, orang yang sama di balik Replika, ngumumin Wabi 2.0: bukan lagi alat vibe-coding, tapi asisten personal berbasis pesan yang katanya “ngerjain sesuatu buat kamu” sekaligus bikin antarmuka on the spot kalau dibutuhkan.

Pengumuman keluar lewat X, bukan rilis pers formal, jadi detail teknisnya masih terbatas pada apa yang Kuyda tulis sendiri di thread-nya.

Kenapa Pindah Haluan

Alasan yang disampein Kuyda cukup jujur: pasar udah berubah. Agen AI kayak Muse bikinan Meta dan Instinct (yang baru aja raih pendanaan seri C 1 miliar dolar dengan valuasi 10 miliar dolar) lagi naik daun, dan model chat-only mulai kerasa sempit buat penggunaan harian.

“Makin sering kamu pakai agen yang cuma chat, makin buruk pengalamannya,” tulis Kuyda di X. “Riwayat dan tugas yang lagi jalan numpuk dalam satu scroll tanpa ujung. Orang nggak cuma mau ketik-ketik-ketik terus, mereka mau tap-tap-tap, scroll, dan lihat.”

Poin itu masuk akal kalau dipikir dari sisi pengguna biasa. Chatbot yang bagus buat nanya sesuatu belum tentu enak dipakai buat ngelacak tugas berulang, kayak nyatet kalori harian atau jadwal les bahasa. Wabi 2.0 nyoba jembatani dua hal itu: obrolan tetap ada, tapi aplikasi kecil bisa muncul otomatis di tengah percakapan.

Contoh Konkret dari Kuyda

Di thread yang sama, Kuyda ngasih beberapa skenario. Kalau kamu lagi ngobrol soal kesehatan, Wabi bisa bikinin pelacak kalori, log angkat beban, atau pemantau berat badan, langsung nempel di thread itu. Kalau topiknya keluarga, Wabi bisa bikin kalender aktivitas anak, aplikasi belajar bahasa, atau daftar acara ramah anak di sekitar rumah.

Konsepnya: satu agen, banyak aplikasi kecil, semua nempel ke orang dan konteks yang relevan. “Sejauh ini agen personal itu satu orang, satu chat, aliran tugas satu-satu,” tulis Kuyda. “Kami pikir masa depannya adalah agen kamu, aplikasi kamu, dan orang-orang kamu, semua di satu tempat.”

Ketersediaan Masih Terbatas

Wabi 2.0 sekarang cuma bisa diakses lewat kode undangan, yang dibagi-bagiin lewat akun X resmi Wabi. Belum ada kabar kapan bakal dibuka buat umum, dan belum ada info soal model bisnis atau harga langganan ke depannya. Karena sumbernya cuma postingan media sosial, angka pengguna atau target ekspansi juga belum bisa dipastikan sampai ada pernyataan resmi lebih lengkap dari perusahaan.

Ini Bukan Cuma soal Wabi

Yang lebih menarik dari kejadian ini sebenernya sinyal arah industri. OpenAI, di hari yang sama, juga ngumumin update ke sistem plugin ChatGPT, ngasih aplikasi pihak ketiga tampilan interaktif di dalam ChatGPT dan posisi lebih kelihatan di sidebar. Google, Meta, dan sekarang Wabi, sama-sama nuju satu arah: chatbot nggak lagi cukup cuma jawab teks, dia harus bisa nyediain antarmuka kerja beneran.

Buat pengembang aplikasi kecil atau bisnis lokal, tren ini pantas dipantau. Kalau makin banyak platform besar nyediain “bikin aplikasi instan dari obrolan”, peluang buat aplikasi niche sederhana, kayak pencatat sewa kos atau pelacak tagihan internet pelanggan, bisa makin gampang dibangun tanpa nulis kode dari nol. Tapi juga berarti makin banyak pemain masuk ke ruang yang sama, jadi diferensiasi produk jadi kunci.

Jejak Eugenia Kuyda Sebelum Wabi

Nama Kuyda sebenarnya udah dikenal jauh sebelum Wabi berdiri. Dia mendirikan Replika, aplikasi companion AI yang sempat viral karena penggunanya bisa ngobrol dengan “teman virtual” yang terasa personal. Replika sendiri jadi salah satu contoh awal gimana chatbot bisa dipakai buat kebutuhan emosional, bukan cuma produktivitas.

Latar belakang itu kelihatan mempengaruhi arah Wabi 2.0. Alih-alih ngejar fitur teknis yang rumit, fokusnya lebih ke pengalaman personal, agen yang “kenal” penggunanya dan nyesuaiin diri sama konteks harian, mirip semangat yang dulu dipakai di Replika tapi buat urusan yang lebih praktis kayak jadwal dan tugas.

Pivot ini juga nunjukin sesuatu yang lebih umum di industri startup AI: model bisnis yang keliatan menjanjikan setahun lalu, kayak vibe-coding buat orang awam, bisa aja kalah relevan begitu ada tren baru yang lebih diminati pasar. Wabi awalnya bersaing sama alat-alat no-code lain, sekarang dia milih arena baru yang lagi ramai, yaitu agen personal.

Risiko dan Pertanyaan yang Masih Terbuka

Pivot semacam ini nggak selalu mulus. Pengguna lama yang udah biasa pakai Wabi buat bikin aplikasi mungkin perlu waktu buat adaptasi ke fungsi baru yang lebih ke arah asisten personal. Belum jelas juga apakah fitur bikin aplikasi yang jadi ciri khas Wabi sebelumnya bakal tetap dipertahankan penuh atau cuma jadi pelengkap dari fungsi messenger yang baru.

Pertanyaan lain yang belum terjawab: gimana Wabi bakal bersaing dengan pemain yang jauh lebih besar modalnya, kayak Meta dengan Muse atau OpenAI dengan Dots. Startup kecil biasanya kalah dari sisi sumber daya buat ngembangin model AI sendiri, jadi keberhasilan Wabi mungkin bakal lebih bergantung pada seberapa cepat dan gesit mereka nge-iterasi produk dibanding raksasa teknologi.

Artikel Terkait

Untuk pembanding, Meta juga lagi masukin agen AI ke pelaku usaha kecil, baca di /posts/meta-muse-umkm-integrasi/. Kalau mau lihat gimana OpenAI juga masuk ke urusan kolaborasi tim, ada di /posts/chatgpt-space-pages-dots-kantor/. Soal keamanan agen AI yang makin jadi sorotan, cek /posts/nvidia-open-agent-safety-platform/.

Sumber & Referensi

Laporan awal dari TechCrunch, pengumuman langsung di akun X Wabi, dan penjelasan tambahan dari thread Eugenia Kuyda.