Underdog, Asisten AI yang Jalan di Perangkat Sendiri

Rabu, Okt 7, 2026 | 4 menit baca | Diperbarui pada Rabu, Okt 7, 2026

@
Underdog, Asisten AI yang Jalan di Perangkat Sendiri

Underdog, asisten AI baru dari startup Conway Research, memproses semua data penggunanya langsung di laptop, bukan di server milik perusahaan lain. Model AI-nya jalan di Mac dan Windows PC, dengan versi Linux, iPhone, dan Android menyusul. Pendekatan ini beda dari mayoritas asisten AI populer sekarang yang justru mengandalkan kirim data ke cloud buat diproses.

Sigil Wen, pendiri Conway Research, bukan nama baru di Silicon Valley. Dia pernah tinggal satu rumah dengan peneliti AI Andrej Karpathy saat umurnya 17 tahun, dan sempat menguji versi awal dari apa yang kemudian jadi Claude dan Midjourney. Sekarang, lewat program Thiel Fellow, dia membangun sesuatu yang dia bilang ingin dipakai anak-anaknya sendiri kelak.

Kenapa Pemrosesan Lokal Jadi Pembeda

Underdog ditenagai Husky, mesin inferensi buatan Wen sendiri yang didesain supaya model AI jalan cepat di perangkat biasa. Klaimnya, Husky memindahkan lebih sedikit data antara chip utama dan chip grafis dibanding mesin sejenis dari pesaing. Belum ada benchmark independen yang membandingkan klaim ini secara langsung, jadi masih perlu diverifikasi lebih lanjut.

Model yang dipakai Underdog saat ini adalah model penalaran 27 miliar parameter, hasil fine-tuning dari Qwen3.8-27B. Ukurannya jauh lebih kecil dari model-model raksasa yang biasa dipakai asisten AI komersial. Wen menyebut performanya sebanding dengan Claude Opus 4.6 pada beberapa benchmark, meski perbandingan semacam ini biasanya tergantung jenis tugas yang diuji.

Ada juga fitur keamanan tambahan: kunci akun email dan layanan lain yang diberikan ke Underdog dienkripsi di perangkat. Jadi kalau ada yang mengakses laptop penggunanya secara fisik, kredensial itu nggak langsung terbaca begitu saja.

Model Bisnis yang Nggak Butuh Data Pengguna

Ini bagian yang menarik. Underdog gratis sejak awal dan nggak akan pakai iklan. Alasannya sederhana, kata Wen: karena AI-nya jalan di perangkat pengguna sendiri, Conway Research nggak perlu membayar biaya inferensi ke penyedia cloud. “Saya nggak perlu menagih biaya subscription karena biaya saya memang sangat rendah,” katanya ke TechCrunch.

Sumber pendapatannya datang dari potongan kecil transaksi pembayaran yang dilakukan lewat Underdog, memakai jalur pembayaran Stripe. Mirip dengan model interchange fee di industri fintech. Salah satu investor malaikatnya memang co-founder Stripe, Patrick Collison.

Pendekatan ini kontras dengan kebanyakan pemain lain di pasar asisten AI, yang kebijakan privasinya sering membuka ruang buat mengumpulkan data pengguna dan menjualnya ke pihak ketiga, atau memakainya buat melatih model lain. Buat asisten AI yang diberi akses ke hal-hal pribadi, mulai dari kondisi medis sampai data finansial, risiko semacam ini jadi lebih serius ketimbang aplikasi biasa.

Conway Research sendiri didukung investor besar: Andreessen Horowitz lewat partner Chris Dixon, Khosla Ventures, Hummingbird, SV Angel, serta Anthology Fund (dana gabungan Menlo Ventures dan Anthropic). Daftar angel investor-nya juga mencakup pendiri Vercel Guillermo Rauch dan peneliti OpenAI Noam Brown.

Yang Masih Perlu Dilihat

Underdog baru rilis versi beta undangan, jadi belum ada data pengguna luas buat menilai seberapa stabil klaim privasi dan performanya dalam pemakaian sehari-hari. Dukungan platform juga masih terbatas ke Mac dan Windows. Buat pembaca yang terbiasa pakai asisten AI berbasis cloud karena performanya lebih kuat, pertanyaannya bukan cuma soal privasi, tapi juga soal sejauh mana model 27 miliar parameter bisa menangani tugas kompleks tanpa bantuan server besar.

Bagi yang mengelola hosting atau layanan cloud sendiri, tren ini juga punya makna lain. Semakin banyak kebutuhan AI yang bisa dijalankan di perangkat pengguna, semakin kecil pula ketergantungan pada infrastruktur cloud terpusat, setidaknya untuk tugas-tugas ringan sehari-hari. Arah ini sejalan dengan diskusi lama soal AI di edge computing, cuma kali ini datang dari produk konsumen langsung, bukan dari penyedia cloud enterprise.

Bagaimana Posisinya Dibanding Asisten AI Cloud Lain

Dua rival terdekat yang sering disebut dalam konteks ini adalah Muse dari Meta dan Instinct. Keduanya memproses data di server, bukan di perangkat, dan sama-sama sempat disorot soal kebijakan privasinya. TechCrunch sebelumnya melaporkan kekhawatiran soal bagaimana Instinct menangani data sensitif penggunanya. Underdog memposisikan dirinya sebagai jawaban langsung atas kekhawatiran itu, meski klaim “paling privat” tetap klaim sepihak dari perusahaan sendiri sampai ada audit independen.

Satu hal yang bikin pendekatan Underdog layak diperhatikan: biaya inferensi AI selama ini jadi beban terbesar buat perusahaan yang menjalankan asisten berbasis cloud. Kalau beban itu dipindah ke perangkat pengguna, model bisnisnya otomatis berubah total. Nggak perlu lagi menghitung biaya token per pengguna aktif bulanan, karena komputasinya memang bukan tanggungan perusahaan.

Tentu ada trade-off. Model 27 miliar parameter yang jalan di laptop konsumen nggak akan pernah menyamai kemampuan model raksasa yang dilatih dengan ribuan GPU kelas data center. Buat tugas berat seperti analisis dokumen panjang atau coding kompleks, pengguna mungkin tetap butuh asisten berbasis cloud. Underdog lebih masuk akal buat tugas harian yang sifatnya ringan dan personal, seperti riset belanja atau menjawab pertanyaan sehari-hari, sesuai yang disebut Wen sendiri.

Artikel Terkait

  • /posts/hark-asisten-ai-privasi/
  • /posts/agen-ai-diblokir-situs/
  • /posts/instinct-agen-ai-grup-chat/

Sumber & Referensi