
Selasa, 7 Oktober 2026, sebuah startup bernama Tab keluar dari stealth mode dengan nilai perusahaan 300 juta dolar AS. Angka itu lumayan besar buat perusahaan yang sebelumnya nggak pernah disebut di mana pun. Tab adalah asisten AI pribadi yang bisa kamu ajak ngobrol lewat iMessage atau WhatsApp, lalu dia yang ngurusin tugas-tugasmu. Detail pendanaan persisnya sendiri tidak diungkap perusahaan, cuma valuasinya yang dibuka ke publik.
Tiga orang di belakang Tab adalah Brennan Erbz, Stafford Schlitt, dan Ammar Amdani. Mereka mulai ngerjain proyek ini awal 2026, jadi dari nol sampai keluar stealth cuma butuh waktu kurang dari setahun. Cepat juga sih, kalau dibandingin sama startup AI lain yang biasanya butuh dua sampai tiga tahun buat berani ngumumin diri ke publik.
Cara Kerjanya Simpel Banget
Konsepnya gampang dijelasin. Kamu kirim chat ke Tab kayak kamu chat teman yang bisa diandalkan. Minta tolong pesan bahan makanan buat masak malam ini, atau suruh dia carikan kado ulang tahun buat adik. Tab yang eksekusi, kamu nggak perlu buka sepuluh aplikasi beda-beda atau isi formulir apa pun.
Ammar Amdani, salah satu co-founder, ngejelasin ke TechCrunch gimana rasanya pakai Tab. Begini katanya: “Kamu text dia kayak kamu text orang yang kamu percaya, dan itu ngangkat beban dari pundakmu. Tagihan, booking, telepon yang terus kamu tunda, ngingetin orang-orang yang kamu sayang.” Dia nambahin satu hal penting soal arsitektur produknya: “Dia punya nomor telepon sendiri, komputer sendiri, dan dompet sendiri, jadi dia nggak cuma ngasih tahu caranya. Dia yang ngelakuin.”
Poin terakhir itu yang bikin Tab beda dari chatbot kebanyakan. Bukan sekadar ngasih rekomendasi atau draf email, tapi benar-benar nekan tombol pesan, bayar, dan konfirmasi booking atas nama kamu. Nah, ini juga alasan kenapa soal kepercayaan jadi isu besar buat produk kayak gini.
Siapa yang Nyuntik Dana
SV Angel, Valar Ventures, dan American Spirit tercatat sebagai investor yang masuk ke Tab. Ketiganya memang dikenal rajin masuk duluan ke startup konsumen sebelum nama mereka ramai dibahas orang. Amdani bilang pertumbuhan Tab sejauh ini didorong word of mouth, bukan dari kampanye marketing gede-gedean. Orang cerita ke teman, teman cerita ke teman lain, begitu terus. Perusahaan juga udah ngasih sinyal bakal ngeluncurkan produk baru nggak lama lagi, meski belum ada tanggal pasti yang disebut.
Perlombaan Asisten AI Personal Makin Ramai
Amdani sendiri terang-terangan ngaku kalau pasar ini sekarang udah jadi semacam perlombaan. Dia nyebut dua nama pesaing. Pertama Instinct, asisten AI yang viral duluan dan baru selesai raise 1 miliar dolar di ronde Series C dengan valuasi 10 miliar dolar, jauh di atas Tab. Kedua, Muse dari Meta, yang belakangan diperluas buat ngelayani pelaku UMKM lewat integrasi bisnis kecil.
Posisi Tab di tengah dua raksasa itu jelas lebih kecil dari segi valuasi. Tapi soal pendekatan, Tab punya cerita yang agak beda. Dia nggak ngejual diri sebagai asisten serba tahu yang nyimpen semua data kamu buat belajar. Justru sebaliknya.
Pasar asisten AI pribadi memang makin padat. Produk sejenis macam Wabi sempat pivot besar-besaran buat nyari posisi yang pas, sementara Ghost mencoba jalan lain lewat komputer AI personal. Ada juga Hark yang dari awal udah fokus banget ke isu privasi. Lihat deretan nama ini, kamu bisa nebak sendiri kan, kalau soal “asisten AI pribadi” sekarang bukan ide yang unik lagi. Yang bikin beda itu eksekusi dan siapa yang dipercaya pengguna.
Trust Jadi Jualan Utama
Amdani nggak malu-malu bilang kalau isu kepercayaan ini sengaja jadi fokus utama Tab. Dia ngasih analogi yang lumayan kena: “Kakek nenek kamu punya dokter keluarga, ada bankir, orang yang kenal mereka dan ngejagain mereka. Kebanyakan dari kita udah nggak punya itu lagi.” Lanjutnya, “Kami pikir pertanyaan yang lebih sulit itu bukan soal kemampuan AI-nya, tapi apakah kamu mau ngasih dia akses ke hidupmu.”
Soal data dan keamanan, dia juga ngasih penegasan yang spesifik, bukan cuma jargon kosong: “Data kamu nggak pernah dipakai buat ngelatih AI. Kartu kamu disimpen di vault yang bahkan Tab sendiri nggak bisa lihat. Nggak ada hal yang nggak bisa dibatalkan yang terjadi tanpa persetujuan kamu.” Dia nutup pernyataannya dengan satu kalimat yang jadi semacam slogan: “Kemampuan itu standar minimum. Trust itu produknya.”
Pernyataan semacam ini wajar muncul, mengingat model bisnis Tab butuh akses ke nomor telepon, kartu pembayaran, dan kadang data personal yang cukup sensitif. Satu kesalahan kecil soal transaksi yang nggak sengaja kejalan bisa langsung ngehancurin reputasi yang baru dibangun.
Apa yang Perlu Diperhatikan Ke Depan
Tab masih jauh lebih kecil dibanding Instinct dari segi valuasi, dan belum sebesar Muse yang punya backing langsung dari Meta. Tapi startup kecil dengan fokus sempit kadang lebih gampang dapet kepercayaan ketimbang produk raksasa yang kesannya terlalu banyak ngumpulin data. Pertanyaannya sekarang, apakah model word of mouth yang dipakai Tab bisa terus nular secepat produk pesaing yang udah viral lebih dulu.
Kalau kamu penasaran soal fitur dan cara daftarnya, situs resmi Tab ngasih gambaran lebih lengkap soal cara kerja produknya.
Kenapa Lewat Chat, Bukan Aplikasi Baru
Satu hal yang menarik dari Tab adalah keputusan buat nggak bikin aplikasi sendiri. Kamu nggak perlu download apa pun, nggak perlu bikin akun baru, nggak perlu ngapal password lagi. Cukup chat dari nomor yang udah kamu pakai sehari-hari, entah itu di iMessage buat pengguna iPhone atau WhatsApp buat yang lain. Strategi ini masuk akal kalau target utamanya adalah orang-orang yang males install aplikasi baru cuma buat satu fungsi spesifik.
Pendekatan kayak gini juga ngurangin friksi di tahap awal. Banyak startup AI konsumen gagal bukan karena teknologinya jelek, tapi karena orang males ngulang proses onboarding. Tab coba lompatin masalah itu dengan masuk ke channel yang udah ada di hidup orang. Simpel, tapi efektif kalau eksekusinya bener.
Meski begitu, pendekatan chat-first juga punya keterbatasan. Kamu nggak bisa nambahin fitur visual yang kompleks kayak dashboard atau grafik di dalam percakapan WhatsApp. Jadi Tab kayaknya memang sengaja milih buat fokus ke hal-hal yang bisa diselesaikan lewat percakapan singkat, bukan analisis data yang ribet.
Risiko yang Ikut Datang
Memberi akses ke nomor telepon, dompet digital, dan kalender pribadi ke satu entitas AI bukan keputusan kecil. Kalau ada bug atau kesalahan sistem, dampaknya bisa langsung kena ke rekening atau jadwal kamu. Makanya penegasan soal persetujuan sebelum eksekusi transaksi (“nggak ada hal yang nggak bisa dibatalkan yang terjadi tanpa persetujuan kamu”) jadi klaim penting yang perlu dibuktikan lewat pengalaman pengguna nyata, bukan cuma lewat wawancara pers.
Pengguna yang mau coba Tab sebaiknya tetap baca detail soal izin akses apa aja yang diminta, terutama buat urusan pembayaran. Fitur yang keliatan nyaman di permukaan biasanya nyimpen pertanyaan teknis di baliknya, soal siapa yang bisa lihat riwayat chat, berapa lama data disimpan, dan gimana proses kalau ada transaksi yang keliru.
Yang jelas, perlombaan asisten AI pribadi ini belum selesai, dan Tab baru aja masuk ke arena dengan taruhan yang nggak kecil.