
Startup siber Pluto Security baru saja keluar dari mode tertutup dengan membawa total pendanaan 42 juta dolar AS untuk menambal celah keamanan aplikasi AI kantor yang makin liar. TechCrunch melaporkan pada 13 Oktober 2026 bahwa 60 persen risiko yang ditemukan Pluto di jaringan pelanggannya justru berasal dari perkakas hasil vibe coding buatan karyawan non-teknis. Departemen keuangan tercatat sebagai penyumbang celah terbesar, mengalahkan tim pemasaran, divisi hukum, bahkan tim developer itu sendiri.
Temuan itu membalikkan asumsi lama banyak kepala keamanan informasi. Selama ini, tim IT mengira bahaya pemakaian AI di tempat kerja paling sering muncul dari programmer yang menguji pustaka kode sembarangan. Faktanya, karyawan bagian keuangan dan pemasaran sekarang jauh lebih rajin merakit aplikasi darurat memakai bantuan AI tanpa melewati pemeriksaan keamanan sama sekali.
Dua jam sejak rilis, alat AI baru langsung masuk jaringan kantor
Shahar Bahat, CEO sekaligus salah satu pendiri Pluto Security, membagikan angka lapangan yang cukup bikin kening berkerut kepada jurnalis TechCrunch, Ram Iyer. Begitu sebuah perkakas AI baru diumumkan ke publik di internet, alat tersebut bisa langsung nongol dan dipakai di dalam lingkungan kerja perusahaan hanya dalam waktu dua jam. Kecepatan adopsi seperti ini jelas membuat perangkat keamanan konvensional kewalahan.
Bahat menceritakan satu kasus nyata yang ditemukan timnya di sebuah perusahaan anggota daftar Fortune 500. Seorang karyawan departemen keuangan di perusahaan raksasa itu berinisiatif membuat aplikasi sendiri lewat vibe coding. Tujuannya terdengar mulia, yakni membantu mengelola informasi pelanggan dan memantau angka pelanggan yang berhenti berlangganan.
Masalahnya, staf keuangan tadi bukan insinyur keamanan jaringan. Aplikasi buatannya yang berisi data pelanggan sensitif itu dibiarkan terbuka begitu saja ke jaringan internet publik tanpa pelindung yang memadai. Satu kesalahan konfigurasi dari karyawan yang berniat kerja cepat bisa langsung berubah jadi bencana kebocoran data.
Dari seluruh temuan risiko di basis pelanggan Pluto, enam dari sepuluh masalah berakar pada proyek vibe coding semacam itu. Urutan penyumbang risikonya cukup mengejutkan. Posisi pertama ditempati departemen keuangan, disusul tim pemasaran di urutan kedua, lalu bagian hukum di posisi ketiga. Para pengembang perangkat lunak atau developer justru baru muncul di peringkat keempat.
Selalu ada komponen jahat di setiap uji coba pelanggan
Cerita yang lebih mengkhawatirkan muncul saat Pluto melakukan uji coba produk atau proof of concept di calon pelanggan mereka. Bahat mengungkapkan bahwa tidak ada satu pun sesi uji coba yang bersih dari temuan berbahaya. Setiap kali sensor Pluto dipasang, mereka selalu mendapati komponen mencurigakan di dalam jaringan perusahaan tersebut.
Komponen berisiko itu wujudnya bermacam-macam, mulai dari paket ekstensi tambahan hingga berkas keahlian atau skill yang dipasang ke agen AI. Bahkan di beberapa perusahaan, tim Pluto mendapati serangan aktif yang sedang berlangsung tepat ketika sesi uji coba tengah berjalan. Dari kacamata pembuktian produk, temuan langsung seperti itu tentu bikin presentasi penjualan mereka sangat meyakinkan. Tapi buat perusahaan yang sedang diuji, kenyataan bahwa jaringan mereka sedang ditembus jelas kabar buruk.
Situasi ini menjelaskan kenapa investor berani menyuntikkan modal besar ke Pluto Security meski usianya masih sangat muda. Total dana 42 juta dolar AS yang mereka kumpulkan terdiri dari dua tahap. Pertama adalah pendanaan awal senilai 8,5 juta dolar AS yang dipimpin oleh TLV Partners, dengan keikutsertaan para pendiri perusahaan keamanan siber Armis. Tahap kedua adalah putaran Seri A sebesar 34 juta dolar AS yang dipimpin Jump Capital, diikuti oleh firma modal ventura Skinos milik salah satu pendiri Check Point Shlomo Kramer, Ansa Capital, serta sejumlah investor individu.
Cara Pluto menghentikan agen AI yang melampaui izin
Sejak mulai menjual perangkat lunaknya pada April 2026, Pluto diklaim sudah melampaui pendapatan berulang tahunan sebesar 2 juta dolar AS. Mereka kini melayani lebih dari 30 pelanggan korporasi, termasuk nama-nama seperti Oscar Health, Workato, Sixt, dan AlphaSense. Dengan modal baru ini, perusahaan yang mempekerjakan 40 staf di Amerika Serikat dan Israel tersebut berencana memperluas riset keamanan serta memperkuat jangkauan pasarnya di Amerika Serikat.
Kenapa perusahaan besar tadi merasa alat keamanan lama tidak lagi cukup? Bahat menilai penggunaan perangkat lunak keamanan tradisional untuk mengawasi konektor dan agen AI ibarat memaksakan pasak kotak ke dalam lubang bundar. Titik pengawasannya sudah bergeser. Tim keamanan tidak bisa lagi hanya memantau perilaku manusia yang mengetik di papan ketik, melainkan harus mengawasi perilaku agen AI secara langsung.
Untuk melakukan pengawasan itu, perangkat lunak Pluto menyambungkan diri ke sistem manajemen perangkat dan keamanan titik akhir atau endpoint yang sudah dimiliki perusahaan. Lewat jalur tersebut, Pluto menanamkan sensor serta model AI ringan langsung di perangkat kerja. Sistem ini membaca perintah teks, instruksi prompt, proses yang sedang berjalan, riwayat aktivitas, sampai izin akses yang diminta oleh komponen seperti server Model Context Protocol atau MCP.
Bagian yang paling menarik ada pada kemampuan intervensi langsung di tengah jalan. Ketika sebuah agen AI kedapatan mencoba mengambil hak akses yang melampaui niat awal pengguna, sistem Pluto tidak harus mematikan seluruh aplikasi secara kasar. Mereka bisa menghentikan satu tindakan berisiko itu saja, atau menyuntikkan instruksi tambahan kembali ke dalam sesi berjalan agar sang agen berhenti sejenak dan meminta konfirmasi ulang kepada pengguna.
Strategi pancing pelanggan lewat pemindai gratis Plutonium
Di luar produk berbayarnya, Pluto punya cara cerdik untuk menjaring calon pembeli sejak bulan April lalu. Mereka meluncurkan situs gratis bernama Plutonium yang bisa dipakai siapa saja buat memeriksa tingkat bahaya dari skill AI publik, konektor, maupun pengaya tambahan. Di dalamnya sudah tersedia pemindai khusus MCP serta katalog komponen yang sudah diverifikasi keamanannya.
Menurut klaim Bahat, ribuan praktisi keamanan kini rutin menggunakan Plutonium, dan sekitar 70 persen alur calon pelanggan Pluto datang dari minat masuk secara mandiri. Meski ia tidak merinci berapa porsi yang berasal murni dari pengguna Plutonium, pendekatan memberi alat cek gratis jelas efektif membangun kepercayaan di kalangan kepala keamanan IT.
Gelombang pendanaan startup pengawas agen AI memang sedang kencang-kencangnya bulan ini. Buat kamu yang mengikuti isu pengamanan model dan agen otonom, baca juga laporan kami tentang pemantauan agen AI hemat biaya dari Goodfire, suntikan modal untuk startup keamanan agen AI Reco, serta langkah Armadin mengamankan kerumunan agen AI.
Bagi tim pengembang lokal yang sedang rajin bereksperimen menghubungkan banyak model bahasa besar ke alur kerja internal, pastikan jalur akses API dikelola dengan rapi dan terpantau. Kalau kamu membutuhkan satu pintu akses ke berbagai model AI populer untuk proyekmu, kunjungi halaman rujukan kami lewat tombol berikut. Daftar Disini
Pelajaran paling mahal dari laporan Pluto sebenarnya sederhana. Melarang karyawan memakai AI di kantor hampir mustahil karena alat baru muncul tiap dua jam, tapi membiarkan divisi keuangan merakit aplikasi database pelanggan tanpa pagar pengaman sama saja dengan mengundang pencuri masuk lewat pintu depan.
Sumber & Referensi
- TechCrunch: Pluto Security raises $42M as AI gives enterprise security teams a new headache
- Situs Resmi Pluto Security
- Dokumentasi Resmi Model Context Protocol (MCP)
CATATAN REDAKSI
- Fakta yang perlu diverifikasi: nilai valuasi perusahaan Pluto Security setelah putaran Seri A senilai 34 juta dolar AS belum diungkapkan ke publik.
- Saran tautan internal: goodfire-monitor-agen-ai, reco-pendanaan-keamanan-agen-ai, armadin-keamanan-agen-ai.
- Jadwal pembaruan: perbarui artikel apabila Pluto merilis laporan tahunan rincian kerentanan MCP atau ekspansi produk ke pasar Asia.
- Risiko kanibalisasi: rendah, karena artikel ini berfokus pada pendanaan Pluto Security dan risiko aplikasi vibe-coded oleh staf non-developer.