Pinterest Luncurkan Beauty Guides Berbasis AI

Selasa, Okt 6, 2026 | 5 menit baca | Diperbarui pada Selasa, Okt 6, 2026

@
Pinterest Luncurkan Beauty Guides Berbasis AI

Pinterest memperkenalkan fitur baru bernama Beauty Guides pada Selasa, 6 Oktober 2026. Fitur ini memakai AI buat mengubah Pin inspirasi kecantikan, misalnya gaya rambut atau bentuk kuku, jadi rencana konkret yang bisa langsung dibawa ke salon.

Ide dasarnya sederhana. Orang sering menyimpan foto gaya rambut impian di Pinterest, lalu bingung cara menjelaskannya ke stylist pakai istilah yang benar. Beauty Guides mencoba menutup celah itu.

Cara Kerja Fitur Ini

Beauty Guides ditenagai teknologi visual intelligence dan AI generatif milik Pinterest yang disebut Pinterest Intelligence. Fitur ini menerjemahkan Pin jadi istilah dan frasa yang biasa dipakai stylist serta nail artist. Istilah-istilah itu kadang nggak familiar buat pengguna biasa, misalnya “balayage”, “root melt”, atau “almond nails”.

Pengguna tinggal tap tombol “Get the Guide” di dalam Pin yang relevan. Setelah itu muncul detail soal apa yang harus diminta ke stylist, estimasi waktu pengerjaan, kisaran harga, sampai kebutuhan perawatan lanjutan. Perawatan lanjutan ini mencakup seberapa sering harus trim, toning, atau touch up.

Kenapa harga jadi informasi penting di sini? Karena treatment seperti balayage bisa masuk hitungan ratusan dolar. Punya gambaran biaya sebelum datang ke salon jelas lebih berguna daripada kejutan di meja kasir.

Di tahap peluncuran awal, fitur ini baru berfungsi buat Pin yang berkaitan dengan gaya rambut, warna rambut, bentuk kuku, dan finish kuku. Kategori kecantikan lain seperti makeup atau skincare belum disebutkan. Jadi perluasan ke kategori itu masih belum dikonfirmasi oleh Pinterest sendiri.

Kenapa Ini Masuk Akal Buat Pinterest

Langkah ini sebenarnya pas dengan kebiasaan yang sudah lama ada di antara pengguna Pinterest. Orang sudah terbiasa membawa foto referensi ke salon. Cuma selama ini prosesnya manual sepenuhnya, dan sering berantakan karena istilahnya beda antara apa yang pengguna bayangkan dengan apa yang stylist pahami.

Pinterest cuma menambahkan lapisan AI di atas kebiasaan yang sudah berjalan, bukan menciptakan perilaku baru dari nol. Pendekatan semacam ini mencerminkan strategi Pinterest belakangan, yaitu menyuntikkan AI ke fitur yang kecil tapi praktis, bukan melempar chatbot generik ke seluruh aplikasi begitu saja.

Platform lain kadang menambahkan AI secara masif sampai terasa dipaksakan dan mengganggu alur kerja yang sudah nyaman. Pinterest justru pilih jalan yang lebih terarah, menempel di satu use case spesifik yang memang sudah jadi kebiasaan penggunanya sejak lama.

Buat content creator atau pemilik bisnis kecantikan yang aktif pakai Pinterest buat promosi, fitur ini punya potensi menambah traffic ke Pin dengan detail teknis yang lengkap. Pin yang bisa “dipandu” lewat Beauty Guides kemungkinan lebih menarik buat disimpan dibanding Pin biasa. Meski begitu, Pinterest belum merilis data soal seberapa besar efeknya ke engagement secara riil.

Ada sisi bisnis lain yang jarang disorot di balik fitur semacam ini. Ketika Pinterest bisa menautkan Pin ke harga dan rentang waktu treatment, platform itu diam diam mengumpulkan sinyal niat belanja yang jauh lebih kuat dibanding sekadar “like” atau “save”. Data semacam ini biasanya jadi bahan bakar iklan yang lebih presisi di kemudian hari, walau Pinterest belum menyinggung rencana monetisasi dari fitur ini secara spesifik.

Pertimbangan Buat Pembaca di Indonesia

Fitur ini baru diumumkan untuk pengguna Pinterest secara umum. Belum ada pernyataan resmi soal jadwal ketersediaan di Indonesia, atau dukungan istilah lokal seperti “rebonding” dan “smoothing” yang lazim dipakai di salon dalam negeri. Jadi ketersediaan dan kecocokan istilahnya untuk pasar lokal masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut sebelum dipakai sebagai acuan.

Yang jelas, tren menempelkan AI generatif ke fitur konsumen yang sangat spesifik, bukan generik, makin sering muncul belakangan ini. Kalau kamu mengelola akun bisnis kecantikan atau sedang membangun personal brand lewat konten visual, memahami tren ini bisa membantu menyesuaikan strategi konten ke depan. Referensi lebih lengkap soal alat AI yang bisa dipakai content creator ada di AI untuk content creator. Kalau fokusnya ke personal branding lewat platform visual, strategi AI untuk personal branding bisa jadi bacaan lanjutan yang relevan.

Fitur sejenis sebenarnya juga mulai muncul di platform belanja sosial lain. TikTok misalnya baru saja merilis asisten belanja berbasis AI dengan checkout satu klik, seperti dibahas di asisten belanja AI TikTok. Pola yang sama terlihat di kedua platform ini. Platform visual dan sosial berlomba mengubah momen “terinspirasi” jadi momen “bertindak”, lewat AI yang menjembatani keduanya secara langsung di dalam aplikasi.

Siapa yang bakal menang di area ini? Masih terlalu awal buat dipastikan. Tapi satu pola kelihatan jelas. Platform yang berhasil menempelkan AI ke momen keputusan nyata penggunanya, bukan sekadar chatbot umum, lebih mungkin bertahan dalam persaingan fitur AI yang makin ramai ini.

Ada juga pertanyaan yang jarang dibahas media teknologi arus utama. Siapa yang bertanggung jawab kalau rekomendasi harga atau waktu pengerjaan dari AI meleset jauh dari kenyataan di salon? Pinterest sejauh ini memposisikan Beauty Guides sebagai panduan awal, bukan kontrak harga yang mengikat. Tapi pengguna awam gampang menganggap angka yang muncul di aplikasi sebagai patokan pasti, padahal harga salon bisa beda jauh antar kota, apalagi antar negara.

Faktor lokal semacam ini yang sering terlewat ketika fitur global diluncurkan serentak ke semua pasar. Di Indonesia misalnya, rentang harga balayage di salon Jakarta jelas beda dengan di kota kecil, dan belum ada kepastian apakah Beauty Guides nanti bisa menyesuaikan estimasi harga berdasarkan lokasi pengguna atau cuma memakai angka acuan dari pasar Amerika Serikat.

Hal lain yang patut dipantau adalah bagaimana Pinterest menyeimbangkan antara memberi informasi berguna dan mendorong pengguna supaya terus kembali ke aplikasi. Fitur yang terasa membantu di permukaan kadang juga dirancang supaya waktu pakai aplikasi makin lama. Bukan berarti Beauty Guides buruk, cuma perlu dilihat dengan kacamata yang realistis, bukan cuma sebagai inovasi yang serba positif.

Sumber & Referensi