
Tiga peneliti keamanan OpenAI, Jasmine Wang, Tomek Korbak, dan Mikita Balesni, dipecat pekan lalu setelah dituduh membagikan informasi sensitif perusahaan ke organisasi keamanan AI pihak ketiga tanpa prosedur resmi. Kamis, 8 Oktober 2026, ketiganya membalas lewat surat terbuka yang membantah tudingan itu dan memperingatkan soal efek membekukan terhadap budaya keterbukaan OpenAI.
Isi Tudingan dan Bantahan
OpenAI menyebut ketiganya melanggar kebijakan perusahaan karena “mengakses dan menangani informasi perusahaan yang sensitif” saat memecat mereka minggu lalu. Dalam suratnya, Wang, Korbak, dan Balesni membantah keterlibatan dalam kebocoran ke The Information soal arsitektur model terbaru OpenAI yang katanya membuat rantai pemikiran (chain of thought) lebih sulit dipantau. Mereka juga menyangkal berhubungan dengan pihak eksternal di luar mandat pekerjaan mereka.
Surat itu ditujukan ke Komite Keselamatan dan Keamanan OpenAI, Grup Penasihat Keselamatan, serta Dewan Penasihat Misi. “Kami jadi khawatir bahwa komunikasi internal dan eksternal soal pemecatan kami membuat rekan kerja kami yang lama takut buat bersuara dan bekerja dengan cara yang, sampai minggu lalu, menjadi bagian penting dari kerja di OpenAI,” tulis mereka.
OpenAI belum memberi tanggapan resmi atas surat terbuka itu. Tapi mereka membagikan memo internal ke TechCrunch yang disusun seorang pemimpin riset, memuji kontribusi ketiganya pada keamanan AI sekaligus membantah pemecatan itu bermotif pembalasan. “Saya ingin menegaskan dengan jelas bahwa keputusan ini bukan soal menyuarakan kekhawatiran keselamatan atau bersuara,” tulis memo itu, menurut kutipan yang diperoleh TechCrunch.
Kenapa Ini Dianggap Lebih dari Sengketa HR Biasa
Buat perusahaan teknologi biasa, pemecatan karyawan karena dugaan pelanggaran kebijakan data mungkin cuma jadi urusan internal. Tapi di laboratorium AI, terutama tim keamanan, insiden semacam ini punya bobot berbeda.
“AI bukan teknologi normal, dan OpenAI bukan perusahaan normal,” tulis Wang, Korbak, dan Balesni. “Kami yang bekerja di bidang keamanan melihat risiko lebih dulu dari siapa pun, dan kami bergantung pada kolaborasi dekat dengan pakar eksternal buat memecahkan cara menanganinya. Kebebasan buat melakukan itu tanpa rasa takut, dan memiliki prosedur internal yang jelas yang memungkinkan kerja ini, itu sendiri merupakan mekanisme keamanan yang penting.”
Ketiganya menyebut pemecatan mereka mencerminkan pergeseran budaya yang lebih luas di OpenAI, dari yang dulu mendorong karyawan “menyuarakan kekhawatiran keamanan dan tidak sepakat secara terbuka” menjadi lingkungan di mana karyawan kini “nggak jelas berada di posisi mana” ketika perilaku yang dianggap normal sebulan lalu tiba tiba jadi alasan pemecatan.
“Mengingat kekhawatiran keamanan yang signifikan terkait pengembangan AI, karyawan nggak boleh dibiarkan bekerja di lingkungan di mana ketakutan dan aturan yang nggak jelas menghambat kerja keamanan AI dan melemahkan akuntabilitas pihak ketiga,” tulis mereka.
Konteks: Ini Bukan Insiden Terisolasi
Kejadian ini datang di tengah rangkaian berita lain soal tekanan internal OpenAI tahun ini. Sebelumnya, David Robinson, karyawan keamanan AI OpenAI lain, mundur dan menulis esai kritis di The Atlantic soal budaya kerja yang dia sebut rusak. Dua insiden ini, meski berbeda bentuknya (satu pengunduran diri sukarela, satu pemecatan), sama sama menyoroti ketegangan antara tim keamanan dan manajemen di lab AI terbesar dunia.
Momen ini juga berbarengan dengan laporan soal pendapatan OpenAI yang disebut 20 miliar dolar lebih rendah dari proyeksi sebelumnya, serta kontroversi rilis solusi matematika yang dikritik komunitas akademis. Satu per satu, gambaran yang muncul adalah perusahaan yang menghadapi tekanan dari berbagai arah sekaligus. Finansial, ilmiah, dan sekarang budaya internal, semuanya datang bersamaan.
Belum ada kepastian apakah OpenAI akan merespons surat terbuka ini secara lebih formal. Begitu juga soal apakah ketiga peneliti itu akan menempuh langkah hukum. Semua klaim di atas, baik dari pihak peneliti maupun OpenAI, masih berupa pernyataan sepihak yang belum diuji lewat proses independen.
Artinya buat Pengamat Industri AI
Insiden semacam ini biasanya nggak langsung berdampak ke pengguna API atau ChatGPT sehari hari. Tapi buat developer dan bisnis yang menaruh taruhan jangka panjang pada satu vendor AI, pola berulang soal kultur internal tim keamanan layak jadi bahan pertimbangan, terutama kalau kamu membangun sistem yang sangat bergantung pada komitmen keamanan jangka panjang vendor tersebut.
Yang penasaran dengan dasar teknis di balik rantai pemikiran model yang disebut dalam kasus ini bisa baca lebih jauh soal tokenizer dan cara model memproses teks lewat panduan tokenizer OpenAI. Buat perbandingan sikap keamanan antar lab, pembaruan kebijakan penggunaan terbaru Anthropic bisa jadi rujukan. Pendekatannya menunjukkan cara berbeda dalam menghadapi isu serupa. Kalau kamu lagi mengevaluasi pilihan model AI secara lebih luas, panduan OpenAI IPO memberi gambaran posisi finansial perusahaan di tengah berbagai tekanan ini.
Industri AI sedang di fase di mana isu keamanan jadi berita utama hampir tiap minggu, bukan cuma kemampuan model. Siapa yang bakal benar dalam sengketa ini, OpenAI atau tiga peneliti yang dipecat, baru akan jelas kalau ada bukti lebih lengkap yang terungkap ke publik.
Pola yang Berulang di Lab AI Besar
Sengketa semacam ini bukan hal baru di industri AI. Google DeepMind, Meta, dan beberapa lab lain pernah menghadapi situasi serupa, di mana peneliti keamanan merasa suara mereka kurang didengar dibanding tim produk yang mengejar kecepatan rilis. Bedanya, kasus OpenAI kali ini melibatkan tuduhan pelanggaran kebijakan data secara langsung, bukan sekadar perbedaan pendapat soal arah riset.
Yang jadi sorotan para pengamat industri adalah soal keseimbangan antara kecepatan inovasi dan pengawasan internal. Semakin besar tekanan kompetitif antar lab AI, semakin besar juga godaan buat memangkas proses tinjauan yang dianggap memperlambat. Kalau benar tim keamanan merasa terkekang, dampaknya baru kelihatan belakangan, biasanya lewat insiden yang sebenarnya bisa dicegah kalau ada lebih banyak ruang buat bersuara dari awal.
Sumber: TechCrunch.