Melius Raih Rp407 Miliar Setelah Bongkar Produk Lamanya

Rabu, Okt 7, 2026 | 4 menit baca | Diperbarui pada Rabu, Okt 7, 2026

@
Melius Raih Rp407 Miliar Setelah Bongkar Produk Lamanya

Melius, platform AI untuk membuat kampanye iklan, gambar, dan video, mengumumkan telah mengumpulkan total pendanaan 25 juta dolar AS (sekitar Rp407 miliar dengan kurs Rp16.300 per dolar, perlu dicek ulang sesuai kurs terkini). Rinciannya terdiri dari Seri A senilai 20 juta dolar dipimpin CRV, ditambah pendanaan awal 5 juta dolar yang dipimpin General Catalyst.

Yang membuat cerita ini menarik bukan cuma angkanya, tapi perjalanan sampai ke sana. Tiga co-foundernya, Joowon Kim, Young Kim, dan Arnav Ramu, dulu bekerja bareng sebagai engineer di Ramp, perusahaan software keuangan korporat. Produk pertama Melius ternyata gagal menemukan pasarnya.

Produk Lama Dibuang, Mulai dari Nol

Saat pertama diluncurkan lebih dari setahun lalu, Melius dibangun sebagai alat performance marketing bertenaga AI, membantu pemasar mengelola dan mengoptimalkan belanja iklan. Setelah enam bulan berjalan, ketiga pendirinya memutuskan ide itu “nggak punya masa depan”, kata Joowon Kim ke TechCrunch.

“Kami buang seluruh codebase-nya, kami bakar semua,” ujar Kim. Tim lalu membangun produk baru dari awal. Hampir setahun setelah peluncuran pertamanya, Melius kini jadi apa yang disebut Kim sebagai “lab agen untuk pekerjaan kreatif”, fokus membuat alat yang menghasilkan aset kreatif dan kampanye itu sendiri, bukan sekadar mengoptimalkan belanja iklan yang sudah ada.

Perubahan arah ini ternyata membawa hasil cepat. Melius mengklaim sudah menembus pendapatan tahunan lebih dari 1 juta dolar AS hanya dalam dua bulan sejak keluar dari mode stealth bulan Juli. Klaim pendapatan ini datang langsung dari perusahaan sendiri, jadi perlu diverifikasi lebih lanjut lewat laporan independen kalau ada.

Pasar yang Ramai, Tapi Menurut Kim Masih Cukup Luas

Melius jauh dari satu-satunya pemain di ruang ini. Kompetitornya termasuk Higgsfield, yang tumbuh cepat dan sempat dinilai 5,4 miliar dolar AS pada Agustus lalu, serta startup lain seperti Krea dan Flora AI.

Kim mengakui Higgsfield, perusahaan berusia tiga tahun yang disebut sudah mencatat pendapatan tahunan lebih dari 700 juta dolar AS, memang “tumbuh gila-gilaan”. Tapi menurutnya pasar alat kreatif berbasis AI ini cukup besar untuk menampung banyak pemain sekaligus. “Ada banyak pemain, yang justru cukup menarik,” katanya. “Itu artinya ada pelanggan yang bisa direbut dan ada permintaan di ruang ini.”

Dari Vlog Gagal ke Platform Kreatif

Ada detail personal yang menarik dari cerita Kim. Dia sempat mencoba membuat vlog, terinspirasi ayahnya yang mahir pakai Final Cut Pro, tapi usahanya sendiri nggak pernah benar-benar berhasil. Ketertarikannya pada pembuatan media digital tetap melekat, dan sekarang lewat Melius dia membangun alat yang dia sendiri ingin pakai: platform di mana siapa saja, termasuk creative director berpengalaman, bisa mengubah ide jadi materi jadi cuma dengan bahasa biasa.

Buat pembaca yang bergerak di bidang pemasaran digital atau agensi kreatif kecil, tren alat AI generatif semacam ini relevan diikuti. Biaya produksi konten visual yang dulunya butuh tim besar kini makin sering ditawarkan lewat platform berbasis prompt teks. Pertanyaannya tetap sama seperti produk AI kreatif lain: seberapa jauh hasilnya bisa dipakai langsung tanpa revisi manual yang signifikan, dan itu belum terjawab dari materi promosi perusahaan sendiri.

Pola yang Berulang di Startup AI Generatif

Cerita Melius sebenarnya mewakili pola yang makin sering terjadi di startup AI generatif belakangan ini. Banyak tim teknis berpengalaman meluncurkan produk pertama dengan asumsi tertentu soal kebutuhan pasar, lalu menemukan bahwa permintaan sesungguhnya ada di tempat lain. Perubahan arah semacam ini, dari alat optimasi belanja iklan menjadi alat pembuat konten kreatif itu sendiri, menunjukkan bahwa batas antara “alat bantu pemasar” dan “alat pengganti sebagian pekerjaan kreatif” makin kabur.

Investor yang masuk di Seri A, yaitu CRV, punya rekam jejak membiayai startup software enterprise maupun konsumen. Keputusan mereka mendukung pivot besar seperti ini, bukan cuma produk awal, menunjukkan bahwa yang dinilai investor bukan semata ide pertama, melainkan kemampuan tim mengenali dan mengeksekusi ulang arah bisnis dengan cepat.

Bagi startup lokal yang bergerak di ruang serupa, kasus Melius juga jadi pengingat bahwa validasi pasar awal nggak selalu akurat, bahkan untuk tim yang punya latar belakang teknis kuat sekalipun. Yang membedakan Melius bukan ide briliannya di awal, tapi keberanian membuang produk yang sudah jadi begitu sinyal pasarnya lemah.

Klaim pendapatan tahunan 1 juta dolar AS dalam dua bulan memang belum diverifikasi lembaga independen manapun. Tapi kalau akurat, itu artinya kecepatan adopsi pasar terhadap alat kreatif berbasis AI jauh lebih cepat dibanding software enterprise konvensional, yang biasanya butuh siklus penjualan berbulan-bulan sebelum mencatat pendapatan berarti.

Kompetisi di ruang ini kemungkinan besar belum selesai. Dengan Higgsfield yang terus tumbuh dan pemain baru yang terus bermunculan, bertahan di pasar AI kreatif akan lebih banyak ditentukan oleh kecepatan iterasi produk ketimbang modal semata. Melius sendiri sudah membuktikan sekali bahwa mereka mau membuang produk yang nggak jalan. Pertanyaannya sekarang, apakah mereka siap melakukan itu lagi kalau produk keduanya mulai kehilangan momentum.

Artikel Terkait

  • /posts/eliseai-pendanaan-350-juta-dolar/
  • /posts/etched-pendanaan-40-miliar/
  • /posts/flai-ai-dealer-mobil/

Sumber & Referensi