
Document Foundation, organisasi nirlaba di balik LibreOffice, menegaskan lagi minggu ini bahwa software office gratis itu tidak akan menambahkan AI generatif ke konfigurasi standarnya. Bukan karena anti teknologi. Alasannya lebih teknis: belum ada satu pun integrasi AI yang memenuhi syarat privasi yang mereka tetapkan sendiri.
Pengumuman ini muncul lewat postingan blog resmi, menyusul komentar seorang pengguna di pengumuman rilis LibreOffice 26.8 bulan lalu. Pertanyaannya singkat saja: “jadi, tanpa AI sekarang jadi fitur?” Jawaban Document Foundation juga singkat. Ya, memang begitu, untuk saat ini.
Alasan di Balik Keputusan Ini
LibreOffice dipakai puluhan juta orang di sekolah, rumah sakit, lembaga pemerintah, firma hukum, dan ribuan organisasi lain. Dokumen yang mereka kerjakan sering berisi data sensitif, mulai dari rekam medis sampai berkas perkara hukum. Ada juga dokumen tender dan data siswa yang ikut lewat sistem ini setiap hari.
Buat institusi semacam itu, mengirim isi dokumen ke server pihak ketiga tanpa kontrol penuh bukan sekadar urusan teknis. Itu masalah kepatuhan dan tanggung jawab hukum.
Document Foundation menulis dengan tegas soal ini. Organisasi apa pun yang menangani data rahasia atau data pribadi yang dilindungi hukum harus tahu ke mana datanya pergi. Satu-satunya jaminan yang lolos audit, menurut mereka, adalah data itu tidak pernah meninggalkan perangkat penggunanya sama sekali.
Kebijakan ini bukan keputusan sesaat yang muncul mendadak. LibreOffice 26.8 yang rilis akhir Agustus 2026 juga sudah menegaskan “tidak ada fitur AI generatif” di dalamnya. Jadi langkah minggu ini lebih ke penegasan ulang sikap yang sudah dipegang sejak lama, bukan pengumuman kebijakan baru.
Bukan Penolakan Total, Cuma Belum Ketemu yang Cocok
Menariknya, Document Foundation berhati hati membedakan antara menolak AI selamanya dan belum ada solusi yang memenuhi kriteria mereka. Keputusan ini, tulis mereka, adalah penilaian terhadap kondisi teknologi hari ini. Bukan vonis terhadap nilai sektor AI secara keseluruhan.
Kriteria yang mereka pasang juga nggak sembarangan. Data pengguna harus tetap di perangkat, titik. Tidak ada ketergantungan pada satu penyedia AI tunggal. Masih ada beberapa syarat lain yang menurut mereka belum ada satu pun integrasi AI komersial yang memenuhi semuanya sekaligus.
Sebagai organisasi nirlaba, Document Foundation punya posisi yang agak unik dibanding perusahaan software komersial. Nggak ada target pendapatan kuartalan yang mengejar mereka buat buru buru menambahkan fitur AI yang bisa dijual lewat langganan premium. Mereka bisa ambil waktu lebih lama buat mengevaluasi, dan itu memang yang mereka pilih sejak awal.
Buat pengguna yang tetap ingin pakai AI berdampingan dengan LibreOffice, opsinya masih ada. Ekstensi pihak ketiga bisa menyambungkan editor ke model AI lokal yang berjalan di mesin sendiri, tanpa mengirim data ke cloud. Jadi penggunanya sendiri yang memutuskan, bukan dipaksa lewat update otomatis dari pengembang.
Bagian dari Tren Lebih Besar
Keputusan LibreOffice ini sebetulnya bukan kasus terisolasi. Belakangan muncul gerakan balik dari sebagian pengguna dan developer terhadap apa yang sering disebut “enshittification”. Istilah ini merujuk ke pembengkakan software dengan fitur AI dan chatbot yang nggak diminta, kadang malah mengganggu pengalaman pakai yang sudah berjalan baik selama ini.
Firefox misalnya sudah menambahkan opsi untuk memblokir semua fitur AI generatifnya secara menyeluruh. Di ekosistem Apple, muncul pula tool command line yang bisa menghapus fitur Apple Intelligence dari macOS. Dua contoh ini menunjukkan permintaan buat kontrol atas AI bukan cuma datang dari satu kelompok pengguna niche saja.
Kalau dibandingkan dengan tren software besar lain yang justru berlomba menambahkan AI ke semua lini produk, sikap LibreOffice ini jelas berlawanan arus. Pertanyaannya, apakah ini strategi diferensiasi yang akan menarik lebih banyak pengguna peduli privasi? Atau justru bikin software ini terasa ketinggalan di mata pengguna awam yang sudah terbiasa dengan AI assistant di mana mana? Belum ada data pengguna resmi yang bisa menjawab itu secara pasti, jadi klaim soal dampaknya ke jumlah pengguna LibreOffice masih belum dikonfirmasi.
Satu hal yang cukup jelas: argumen privasi LibreOffice menyasar segmen yang sangat spesifik. Rumah sakit, firma hukum, dan instansi pemerintah memang punya kewajiban hukum soal ke mana data bisa mengalir, beda dengan pengguna rumahan yang mungkin lebih santai soal itu.
Yang pasti, buat pembaca yang juga mengelola data sensitif dan masih mikir dua kali soal AI yang mengunggah isi dokumen ke cloud, opsi semacam LibreOffice jadi alternatif nyata. Kalau butuh referensi soal sisi keamanan dan privasi alat AI yang justru berbasis cloud, bisa baca perbandingan privasi dan keamanan ChatGPT buat pembanding. Atau cek perbandingan alat AI berdasarkan privasi kalau ingin memetakan mana yang lebih cocok sesuai kebutuhan data organisasi.
Bagi yang mengelola server sendiri dan ingin coba sambungkan model AI lokal ke LibreOffice lewat ekstensi, pertimbangan infrastrukturnya juga perlu dipikirkan matang. Soal keamanan dan privasi di sisi Gemini atau model lain yang dipasang di jaringan internal dibahas lebih lanjut di privasi dan keamanan Google Gemini.
Pertanyaan yang belum terjawab tuntas: seberapa lama Document Foundation bisa menahan tekanan pasar kalau pengguna justru makin menuntut fitur AI bawaan? Software office komersial seperti Microsoft 365 dan Google Workspace sudah lama menyuntikkan AI ke produk intinya. Risiko LibreOffice ketinggalan fitur memang nyata, tapi organisasi ini sepertinya lebih memilih jadi opsi yang jujur soal batasan dibanding ikut arus tanpa kejelasan soal ke mana data penggunanya pergi.
Sumber & Referensi
- LibreOffice says ’no AI’ is now a software feature - TechCrunch, Zack Whittaker, 6 Oktober 2026
- Yes, no AI is now a feature - Document Foundation, blog resmi