
Baru sepekan mengantongi pendanaan seri C senilai satu miliar dolar AS, startup asisten AI Instinct sudah bikin sebagian penggunanya risih. Fitur baru bernama Instinct Selections mendadak mengirim rekomendasi belanja yang tidak diminta, dan reaksinya di media sosial jauh dari meriah.
Jadi begini ceritanya. Instinct, agen AI yang bisa dipakai lewat pesan teks untuk memesan tiket, reservasi restoran, sampai membereskan email, menambahkan fitur kurasi produk personal. Area yang disasar meliputi kuliner, perjalanan, dan belanja, dengan klaim rekomendasi itu dirangkai bersama “koki lokal, desainer, arsitek, dan pemandu wisata” supaya terasa lebih manusiawi ketimbang sekadar hasil scraping internet.
Kronologi Singkat Peluncuran Fitur
Noah Shinn, pendiri Instinct, mengumumkan fitur ini lewat X pada Selasa malam waktu setempat. Ia menjelaskan bahwa Instinct Selections dibangun untuk menyajikan “cita rasa manusia”, bukan cuma tebakan algoritma dari data pelatihan yang luas.
Contohnya begini. Kalau pengguna mencari restoran, Instinct bisa menarik daftar pilihan dari koki yang katanya tahu tempat tersembunyi di sekitar lokasi. Kalau mencari jalur hiking baru, agen ini mengambil rekomendasi dari pemandu lokal. Soal dekorasi rumah, Instinct menjanjikan temuan dari desainer independen yang cocok dengan gaya dan anggaran pengguna.
Masalahnya, siapa saja mitra manusia di balik kurasi ini belum diungkap Instinct secara terbuka. Klaim “human taste” itu masih sepihak dari perusahaan dan belum diverifikasi pihak ketiga.
Reaksi Pengguna: Dari Bingung sampai Jijik
Respons awal publik jauh dari antusias. Shruti Gandhi, partner umum di firma investasi berfokus AI, Array VC, menulis di X bahwa ia tidak butuh koper kabin, kacamata hitam, atau topi bertepi lebar yang disodorkan Instinct. Ia malah berharap agennya cukup bikin daftar belanja berdasarkan apa yang benar-benar dibutuhkan.
Pengusaha lain, Andrew Yeung, juga mengonfirmasi menerima rekomendasi yang tidak ia minta sama sekali. Lalu ada Chat Joglekar, pendiri marketplace jual beli bisnis, yang menggambarkan momen itu sebagai pengalaman “ewww” pertamanya dengan asisten AI, setelah Instinct menyarankan produk berdasarkan isi email dan rencana perjalanannya.
Yang bikin runyam, rekomendasi ini muncul di waktu acak, bukan menyambung dari percakapan yang sedang berlangsung. Padahal, kurasi semacam ini biasanya cuma terasa membantu kalau relevan dengan konteks obrolan saat itu juga. Begitu melenceng dari konteks, kesan yang tertinggal justru seperti dijejali iklan, bukan dibantu asisten pribadi.
Kenapa Momentumnya Terasa Aneh
Fitur ini meluncur persis setelah Instinct mengumumkan putaran seri C senilai satu miliar dolar AS yang menaikkan valuasinya jadi sepuluh miliar dolar AS, dipimpin Sequoia Capital, Benchmark Capital, dan Coatue. Perusahaan berisi empat belas karyawan ini belum pernah merilis angka pengguna aktif secara resmi, meski valuasinya sudah menembus dua digit miliar.
Dalam wawancara podcast terpisah dengan investor Patrick O’Shaughnessy, Shinn sempat menyebut volume transaksi tahunan di platform mendekati satu miliar dolar AS, dengan lebih dari separuhnya berkaitan dengan perjalanan. Ia tidak merinci metodologi perhitungan angka tersebut, jadi klaim ini masih berstatus belum dikonfirmasi secara independen.
Instinct sendiri belum menjelaskan apakah fitur rekomendasi produk ini sudah menghasilkan uang, atau baru fase uji coba sebelum dimonetisasi lewat skema iklan, komisi afiliasi, atau kemitraan dagang. TechCrunch sudah meminta tanggapan resmi dari perusahaan, namun hingga laporan asli diterbitkan belum ada jawaban.
Perbandingan dengan Kompetitor
Instinct kini bersaing ketat dengan agen AI serupa dari perusahaan besar, termasuk Muse milik Meta dan Dots yang baru diluncurkan OpenAI di acara Dev Day. Kedua kompetitor itu, menurut laporan TechCrunch, belum menerapkan fitur dorong rekomendasi belanja semacam ini.
Posisi ini menarik buat diperhatikan. Instinct sedang berusaha membedakan diri lewat kurasi “manusiawi”, tapi justru langkah itu yang pertama kali memicu gesekan dengan basis penggunanya sendiri. Padahal sebelumnya, Instinct lebih dikenal lewat sorotan soal kebijakan privasi datanya yang dianggap terlalu longgar, termasuk lisensi penggunaan data pengguna yang sifatnya permanen dan tidak bisa dicabut.
Pelajaran buat Pengguna Agen AI
Buat pembaca yang mulai memakai agen AI personal, baik untuk urusan kerja maupun belanja sehari-hari, momen ini jadi pengingat yang relevan. Agen yang terhubung ke email, kalender, dan riwayat pencarian punya akses ke banyak sinyal perilaku. Begitu akses itu digabung dengan model bisnis yang butuh pendapatan tambahan, dorongan untuk menyarankan “sesuatu untuk dibeli” sangat masuk akal dari sisi perusahaan, meski belum tentu nyaman buat pengguna.
Kalau Anda memakai agen AI serupa, ada baiknya cek pengaturan notifikasi dan izin akses data secara berkala. Rekomendasi yang datang tanpa diminta bisa jadi sinyal awal kalau asisten itu mulai bergeser fungsi, dari membantu jadi menjual.
Pola yang Sama Juga Pernah Terjadi di Produk Lain
Kasus Instinct ini sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah produk digital. Pola serupa pernah terjadi waktu aplikasi belanja dan media sosial mulai menyelipkan iklan bersponsor di antara konten organik. Awalnya keras penolakannya, lalu lama-lama pengguna terbiasa, dan perusahaan menyempurnakan targeting supaya terasa lebih relevan.
Bedanya, agen AI punya akses data jauh lebih dalam dibanding feed media sosial biasa. Instinct, misalnya, bisa membaca isi email dan rencana perjalanan pengguna untuk menyusun rekomendasi. Tingkat keintiman akses semacam ini yang bikin reaksi penolakannya terasa lebih tajam ketimbang iklan di linimasa biasa. Satu pengguna bilang “ewww”, bukan sekadar “skip aja”.
Pertanyaannya sekarang, apakah Instinct akan menyesuaikan diri dengan memperketat relevansi dan frekuensi rekomendasi, atau malah mendorong terus karena sudah melihat potensi pendapatan baru di sana? Jawabannya belum jelas. Perusahaan belum merilis pernyataan resmi soal rencana ke depan untuk fitur ini.
Sumber & Referensi
Artikel ini disusun ulang dari laporan TechCrunch: Instinct’s new product recommendations are giving some users the ick, dengan konteks tambahan dari laporan TechCrunch: Instinct founder said more than 50% of transactions on the platform are travel-related.
Artikel Terkait
- /posts/ai-agent-vs-agentic-ai/
- /posts/shopify-checkout-ai-agent/
- /posts/ai-tools-alat-ai-terbaik-untuk-produktivitas/
Referral opsional untuk eksplorasi model AI
Penasaran coba model AI lain yang lebih fokus pada fungsi, bukan jualan? Tersedia tautan referral: Daftar Disini.
Pengungkapan: kami berpotensi menerima komisi atau manfaat referral melalui tautan tersebut. Tautan ini tidak memengaruhi isi liputan dan tidak wajib digunakan.