
Dua eks karyawan Google baru saja menutup dana ventura senilai $11,3 juta. Bukan buat startup AI generik, tapi khusus buat yang produknya benar-benar mau dibayar perusahaan besar, bukan sekadar dicoba gratis lalu ditinggal.
BAG Ventures, nama fund itu, didirikan oleh Bontia Stewart (mantan wakil presiden Google selama hampir satu dekade) dan Jackson Georges Jr. (mantan partner di CapitalG, dana pertumbuhan milik Alphabet). Keduanya bertemu di Google, lalu memutuskan jalan sendiri. Fund ini sudah jalan sekitar dua tahun sebelum resmi ditutup, dan portofolionya sudah berisi 10 perusahaan, termasuk startup software SXD, agen perjalanan berbasis AI BizTrip, dan platform penalaran agentic Nomadic.
Kenapa “Bisa Dibayar” Jadi Syarat Utama
Georges melihat pergeseran nyata di cara perusahaan besar membeli produk AI. Menurutnya, fase eksperimen bebas sudah selesai. “Enterprises are dialing in heavily on the unit economics right now,” katanya ke TechCrunch. Perusahaan sekarang nggak lagi mau bayar chatbot serba guna yang hasilnya susah diukur. Mereka mau solusi yang benar benar menyelesaikan pekerjaan, seperti otomasi review kode atau parsing dokumen hukum.
Ambisi BAG Ventures ada di titik itu. Bukan mendanai demo yang keren di panggung, tapi produk yang masuk ke alur kerja harian dan menggantikan biaya nyata. Cek investasi mereka relatif kecil, antara $100 ribu sampai $500 ribu per startup, dengan sisa dana rencananya habis dalam dua tahun ke depan.
Georges juga menyinggung soal cara perusahaan membeli software di masa depan. Bukan lagi model langganan per kursi pengguna, tapi bayar per pekerjaan yang selesai lewat alur kerja multi-agen. Kedengarannya kecil, tapi kalau benar terjadi, ini mengubah total cara vendor SaaS menghitung harga.
Modal Bukan Cuma Uang, Katanya
Yang menarik dari model BAG Ventures adalah daftar limited partner-nya. Selain Google, ada juga operator dari Nvidia, Amazon, dan Snowflake, totalnya lebih dari 150 LP dari berbagai perusahaan. Georges bilang keunggulan mereka bukan cuma modal, tapi akses. “We don’t just give founders capital; we give them direct warm introductions to potential customers and hands-on go-to-market advice,” ujarnya.
Pendekatan semacam ini sebenarnya bukan barang baru di industri modal ventura. Banyak fund kecil mengklaim punya jaringan operator yang membantu. Tapi Georges cukup percaya diri, “Lots of firms have an operator network. We want to be one that’s genuinely useful.”
Pengalaman Stewart juga bukan main main. Selama 17 tahun di Google, dia sempat duduk di dewan Gradient Ventures, dana AI tahap awal milik Google sendiri. Dia juga limited partner di Female Founders Fund dan Operator Collective. Bersama Georges, ia sebelumnya sudah membangun sindikat angel BAG Collective dengan lebih dari 450 anggota.
Sektor Mana yang Diincar
BAG Ventures fokus ke beberapa area spesifik: infrastruktur AI, komputasi, AI fisik dan edge, keamanan, governance, serta SaaS vertikal. Mereka juga melirik startup yang menjual ke industri dengan regulasi ketat, tempat kebutuhan privasi data butuh spesialisasi khusus.
“That means securing internal data flows, building acceptable-use guardrails, and deploying continuous automated red-teaming,” kata Georges, sambil menyebut portofolio mereka Defendremate sebagai contoh pendekatan yang sudah berjalan.
Satu tren lain yang mereka pantau adalah kebutuhan identity and access management, tapi bukan untuk manusia, melainkan untuk agen AI sebagai pekerja non manusia. Georges menyebut startup yang bisa membangun arsitektur zero trust khusus sistem agentic bakal mengisi celah besar yang menurutnya sangat menguntungkan.
Ada juga kekhawatiran yang jujur diungkap Georges soal masa depan startup wrapper. Kalau sebuah produk cuma pembungkus tipis di atas API model fondasi, dia yakin startup semacam itu bakal tergerus begitu lab AI besar meluncurkan fitur serupa langsung dari produk mereka sendiri. “If a startup is just a thin wrapper around a frontier model API, they’re going to get wiped out,” katanya blak-blakan.
Bagaimana Ini Relevan Buat Indonesia
Fund sebesar $11,3 juta memang kecil dibanding raksasa modal ventura Silicon Valley. Tapi arah investasinya mencerminkan tren yang juga mulai terasa di ekosistem startup Indonesia: investor makin selektif, dan makin fokus ke produk AI yang punya jalur monetisasi jelas, bukan cuma jargon “powered by AI”.
Buat pembaca yang sehari-hari memakai alat AI untuk kerja, tren ini juga berarti makin banyak startup B2B yang bakal muncul dengan fitur spesifik, bukan chatbot generik. Kalau kamu penasaran gimana perusahaan sekelas OpenAI sendiri sedang menjaring dana besar di tengah tren yang sama, ada laporan lengkapnya di artikel soal putaran dana $30 miliar OpenAI. Startup pendanaan besar lain seperti Modal Labs, penyedia infrastruktur inferensi AI, juga sedang dalam proses serupa. Detailnya ada di liputan pendanaan Modal Labs.
Tren “bayar per hasil kerja, bukan per kursi” yang disinggung Georges juga sejalan dengan gerakan EliseAI dan startup sejenis yang menggandakan valuasinya lewat model serupa. Kamu bisa baca perbandingannya di artikel pendanaan EliseAI.
Yang masih belum jelas: apakah model bayar per pekerjaan ini benar-benar akan menggantikan langganan SaaS tradisional dalam waktu dekat, atau cuma jadi wacana investor yang belum teruji di pasar luas. BAG Ventures sendiri baru mulai menyalurkan sisa dananya, jadi hasil nyata dari taruhan mereka baru akan kelihatan dalam satu sampai dua tahun ke depan.
Sumber: TechCrunch dan halaman resmi BAG Ventures.