Amazon Setop NDA Data Center, Siapkan Dana Rp15,7 T

Sabtu, Okt 3, 2026 | 5 menit baca | Diperbarui pada Sabtu, Okt 3, 2026

@
Amazon Setop NDA Data Center, Siapkan Dana Rp15,7 T

CEO Amazon Web Services Matt Garman mengumumkan perusahaannya berhenti memakai nondisclosure agreement (NDA) dalam negosiasi proyek data center dengan pemerintah daerah di Amerika Serikat. Pengumuman itu muncul dalam postingan blog sepanjang kurang lebih 3.000 kata, sekaligus membawa program dana komunitas senilai 1 miliar dolar AS (sekitar Rp15,7 triliun dengan kurs 15.700).

NDA memang jadi salah satu sumber kemarahan warga di dekat proyek data center. Aktivis lingkungan Erin Brockovich pernah bilang keluhan nomor satu yang dia dengar soal data center bukan air atau listrik, tapi transparansi. Proyek sering diumumkan setelah izin sudah dikantongi, pengembang nggak mau diajak ngobrol, dan pejabat lokal sudah tanda tangan NDA sebelum tetangga mereka sendiri tahu ada proyek apa.

Isi Pengumuman Garman

Microsoft lebih dulu menghentikan praktik NDA serupa pada Maret, jadi Amazon bukan yang pertama. Tapi langkah ini penting karena tekanan publik terhadap data center lagi memanas. New York baru-baru ini mengumumkan moratorium satu tahun untuk izin data center skala besar, dan menurut Garman, ada lebih dari 100 moratorium serupa yang sedang dipertimbangkan di berbagai wilayah AS.

“Kalau langkah-langkah ini jadi diberlakukan, Amerika Serikat bisa saja menulis sendiri tiket kekalahannya di perlombaan ini, dan akibatnya bakal terasa sampai generasi berikutnya,” tulis Garman, mengutip bahasa TechCrunch soal postingannya. Dia membandingkan pembangunan data center dengan proyek jalan tol antarnegara era 1950-an, menyebutnya kebutuhan keamanan nasional.

Selain soal NDA, paket pengumuman ini mencakup “Data Center Commitment”. Amazon berjanji fasilitasnya nggak akan mendorong naik tagihan listrik warga sekitar, dan perusahaan akan merilis data tahunan soal pemakaian energi serta air.

Empat Mitos yang Dibantah

Garman menyasar empat klaim yang menurutnya keliru. Pertama, bahwa data center menyedot air dalam jumlah ekstrem. Kedua, bahwa fasilitas ini mendongkrak tarif listrik. Ketiga, soal polusi dari genset diesel cadangan. Keempat, klaim bahwa data center nggak memberi manfaat apa pun ke komunitas sekitarnya.

Untuk membela poin air, Garman mengutip laporan internal Amazon yang menyebut konsumsi air langsung data center hanya 0,5 persen dari total pemakaian air industri di AS, jauh di bawah lapangan golf atau pertanian almond. Masalahnya, klaim ini (sama seperti klaim serupa dari Nvidia soal “menghilangkan hampir semua pemakaian air”) cenderung mengabaikan konsumsi air tidak langsung lewat pembangkitan listrik dan produksi chip. Ilmuwan sudah lama minta data pemakaian air dan energi data center diaudit independen, karena belum ada aturan federal atau negara bagian yang mewajibkan pelaporan itu.

Soal listrik, Garman mengakui tarif naik di sebagian negara bagian dengan banyak data center, tapi turun atau tumbuh lebih lambat di tempat lain. Argumennya, kenaikan itu terjadi terutama karena jaringan listrik yang sudah tua dan kurang investasi, bukan karena data center per se. Klaim ini bertolak belakang dengan temuan sebuah lembaga pengawas independen yang menyebut data center sebagai penyebab utama kenaikan tarif listrik 76 persen tahun ke tahun di sejumlah wilayah, jadi perdebatan ini masih berjalan dan belum ada pihak ketiga yang mengonfirmasi angka siapa yang lebih akurat.

Dana Komunitas dan Klaim Keamanan Nasional

Selain soal NDA dan komitmen data, Garman juga mengumumkan program “Built Together” senilai 1 miliar dolar AS. Dana ini katanya bakal dipakai buat membiayai kuliah gratis di community college, pelatihan kerja di bidang teknis, serta program efisiensi energi buat sekolah dan rumah warga di sekitar lokasi data center baru. Angka ini belum dirinci per lokasi, jadi belum jelas berapa yang bakal mengalir ke satu kota tertentu dibanding kota lain.

Garman juga mengutip laporan yang katanya menyebut sejumlah negara sengaja menyebar disinformasi di AS buat memperlambat pembangunan data center, argumen yang juga sering dipakai pemerintahan Trump. Klaim ini langsung dibantah peneliti disinformasi dan pemeriksa fakta independen, yang bilang porsi pengaruh asing dalam gerakan penolakan data center di AS kemungkinan dibesar-besarkan. Nggak ada data pihak ketiga yang dikutip Garman buat mendukung klaim spesifik ini, jadi pembaca perlu hati-hati menganggapnya sebagai fakta yang sudah terverifikasi.

Dalam postingan yang sama, Garman membandingkan gelombang pembangunan data center sekarang dengan proyek interstate highway system Amerika di era 1950-an, menyebutnya infrastruktur strategis setingkat keamanan nasional. Analogi semacam ini jadi bahan diskusi tersendiri, karena jalan tol dibangun dengan dana publik dan dipakai semua warga, sementara data center AI dimiliki dan dioperasikan penuh oleh perusahaan swasta.

Kenapa Ini Relevan Buat Pelaku Hosting dan Cloud di Indonesia

Buat pembaca yang mengelola bisnis hosting atau VPS skala kecil sampai menengah, perdebatan data center raksasa di AS kedengaran jauh. Tapi arah tren globalnya kena imbas ke semua lapisan industri cloud, termasuk ke Indonesia. Permintaan listrik dan lahan buat infrastruktur AI terus naik, dan kalau pemain sebesar Amazon sampai perlu kampanye publik segede ini, artinya tekanan kapasitas benar-benar nyata, bukan sekadar isu lokal AS.

Tekanan semacam ini pada akhirnya ikut mendorong biaya operasional data center global, yang cepat atau lambat terasa di harga layanan cloud dan VPS di pasar yang lebih kecil juga. Buat yang sedang menimbang infrastruktur sendiri, perbandingan VPS, shared hosting, dan cloud hosting tetap jadi titik awal yang masuk akal sebelum mikirin skala yang lebih besar. Soal transparansi dan akuntabilitas infrastruktur, topik serupa juga muncul di diskusi global soal komputasi AI yang mau dibawa ke luar angkasa karena kapasitas di darat makin terbatas, dan buat yang baru mau terjun ke hosting, panduan memilih hosting bisa jadi titik awal yang lebih aman daripada langsung ke skala enterprise.

Satu hal yang belum jelas dari pengumuman ini: Amazon nggak merinci berapa banyak proyek yang sebelumnya terikat NDA, dan belum ada konfirmasi independen soal berapa banyak pemerintah daerah yang bakal langsung dibebaskan dari perjanjian lama. Kalau janji ini cuma berlaku buat kontrak baru, dampaknya ke kekhawatiran warga yang sudah lama menunggu transparansi bisa jauh lebih kecil dari yang terdengar di judul berita.

Sumber & Referensi

Artikel ini disusun berdasarkan laporan TechCrunch dan kutipan dari blog resmi AWS yang diulas ulang lewat laporan AFP via Yahoo Finance.