Chesky: Chatbot Bukan Jawaban buat Cari Properti

Jumat, Okt 2, 2026 | 4 menit baca | Diperbarui pada Jumat, Okt 2, 2026

@
Chesky: Chatbot Bukan Jawaban buat Cari Properti

Hampir semua perusahaan teknologi besar berlomba pasang chatbot di produk mereka tahun ini. Brian Chesky, CEO Airbnb, justru jalan ke arah sebaliknya.

Minggu ini Airbnb merilis pembaruan musim gugur yang isinya fitur pencarian berbasis AI, bukan chatbot. Penggunanya bisa cari properti dengan mengetik atau ngomong pakai bahasa sehari-hari, lalu sistem bakal nunjukin filter dinamis sesuai konteks. Kalau kamu ketik “bayi” misalnya, Airbnb otomatis nunjukin filter tambahan kayak kasur bayi, taman bermain, atau buku anak. Nggak perlu scroll manual nyari satu-satu.

Alasan Chesky Ogah Pakai Chatbot

Dalam wawancara dengan TechCrunch, Chesky menjelaskan kenapa dia nggak percaya chatbot cocok buat urusan belanja dan cari properti. Menurutnya, chatbot cuma ngasih beberapa opsi dalam satu waktu, dan pengguna harus bolak-balik beberapa putaran percakapan sebelum dapat hasil yang pas.

Dia juga bawa data riset soal kebiasaan traveler. “Studi perjalanan nunjukin orang justru dapat kesenangan lebih besar dari proses merencanakan dan menanti perjalanan, dibanding perjalanan itu sendiri,” kata Chesky. Pengalaman menjelajah dan membayangkan opsi, menurut dia, nggak boleh hilang cuma karena semua dipaksa masuk format obrolan satu arah.

Chesky nggak menutup pintu buat perubahan lebih jauh ke depan. Dia bilang format yang Airbnb pakai sekarang juga bukan bentuk akhir. Ada kemungkinan munculnya antarmuka baru, semacam titik tengah antara chatbot penuh dan tampilan pencarian visual yang dipakai saat ini.

Masalah Lain: Chatbot Dibuat buat Satu Orang

Ada alasan kedua yang Chesky sebut, yaitu soal kolaborasi. Chatbot menurutnya dirancang buat satu pengguna, padahal banyak keputusan perjalanan dibuat berkelompok, entah sama keluarga atau teman. Dalam tiga sampai enam bulan ke depan, Airbnb berencana eksplorasi antarmuka “multiplayer” yang bisa dipakai bareng beberapa orang sekaligus buat merencanakan satu trip.

Chesky juga menyinggung soal agen AI pihak ketiga macam Instinct dan Muse, yang belakangan ramai dipakai orang buat mengurus pemesanan secara otomatis. Dia mengaku sudah coba sendiri memakai Airbnb lewat agen-agen itu, dan hasilnya belum memuaskan. “Bahkan buat hotel pun belum jalan dengan baik, apalagi buat Airbnb,” katanya.

Operating System buat Agen, Belum Ada yang Punya

Bagian paling menarik dari wawancara ini ada di keluhan Chesky soal arsitektur industri secara umum. Dia bilang masalah besarnya bukan soal siapa yang jadi agen AI utama, tapi karena belum ada yang benar-benar membangun sistem operasi khusus buat AI, lengkap dengan kit pengembangan yang matang.

Dia cerita pernah ngasih saran ke Sam Altman waktu ChatGPT coba bikin toko aplikasi sendiri tahun lalu. Chesky bilang kalau mau jadi App Store ala iPhone, dibutuhkan kit pengembang dan sistem operasi yang sepadan, bukan cuma galeri aplikasi di atas chatbot. Menurutnya upaya itu belum berhasil dengan baik.

Pandangan Chesky ini relevan buat siapa pun yang penasaran soal arah agentic AI vs AI agent ke depan. Dia melihat masa depannya bukan di satu agen super yang menguasai semua aplikasi, tapi di dunia di mana setiap aplikasi jadi agen sendiri-sendiri yang bisa saling bicara lewat standar terbuka kayak MCP (Model Context Protocol).

Perbincangan soal siapa yang jadi “agen utama” ini juga nggak lepas dari konteks persaingan seputar berbagai framework agen AI yang belakangan makin ramai, mulai dari yang dibangun lab besar sampai komunitas open source.

Kendala yang Belum Terpecahkan

Chesky cukup jujur soal keterbatasan arah ini. Dia bilang selama Apple dan Google masih memegang kendali platform lewat iPhone, kemungkinan besar aplikasi tetap jadi elemen utama buat waktu yang lama. Kalaupun agen makin pintar, hanya Apple, Google, atau pemain sejenis yang punya posisi buat benar-benar membangun platform baru dari apps ke agents.

Dia menutup wawancara dengan topik suara. Menurutnya, orang bakal lebih sering ngomong ke perangkat ketimbang mengetik, dan Airbnb berencana merilis agen suara musim gugur ini buat bantu urusan pencarian dan layanan pelanggan.

Kenapa Ini Penting Buat Pelaku Bisnis Online

Sikap Airbnb ini jadi studi kasus menarik buat siapa pun yang mengelola bisnis online dan sedang mempertimbangkan bikin agen AI sendiri. Nggak semua interaksi pelanggan cocok dipaksa masuk format chatbot. Kalau produknya butuh eksplorasi visual, perbandingan, dan keputusan kolektif, pencarian berbasis AI dengan filter dinamis bisa jadi pilihan yang lebih pas ketimbang kotak obrolan satu arah.

Buat UMKM yang baru belajar soal otomasi, pelajaran dari kasus Airbnb ini sederhana: pilih antarmuka sesuai perilaku pelanggan, bukan sekadar ikut tren industri.

Perlu dicatat juga, sikap hati-hati Airbnb ini bukan tanpa risiko komersial. Pesaing di industri perjalanan macam Priceline, Kayak, dan Expedia sudah lebih dulu menggelar pencarian berbahasa natural, bahkan sejak 2023 untuk Priceline. Artinya, langkah Airbnb kali ini bukan inovasi pertama di kategori, melainkan susulan buat mengejar standar yang sudah ditetapkan kompetitor. Chesky sendiri terbuka soal hal ini dan menyebut keunggulan Airbnb ada di integrasi, bukan kecepatan jadi yang pertama. Dia pernah bilang di forum industri bahwa Airbnb membangun ulang dirinya sebagai perusahaan yang AI-native, dan menjanjikan alat agentic penuh baru akan hadir pada 2027, bukan tahun ini.

Jarak waktu setahun lebih itu menunjukkan Airbnb sengaja mengambil pendekatan bertahap. Fitur pencarian dan perbandingan AI yang baru dirilis bulan ini jadi semacam fondasi, sementara kemampuan agen yang bisa bertindak atas nama pengguna masih disiapkan secara terpisah. Pendekatan hati-hati ini sejalan dengan posisi Chesky yang sejak awal skeptis terhadap antarmuka chatbot generik.

Sumber & Referensi

Artikel ini disusun berdasarkan wawancara eksklusif TechCrunch dengan Brian Chesky dan rilis resmi Airbnb Newsroom.